Menolak Punah, Pemkot Jayapura Susun Kamus Bahasa Nafri

Anak-anak dari Suku Nafri sedang menari dalam sebuah kesempatan. Foto: Katharina_BumiPapua

JAYAPURA, BumiPapua–  Indonesia memiliki 718 kekayaan bahasa daerah dan lebih dari 400-an bahasa daerah ada di Papua. Sementara dari 400-an bahasa daerah tersebut, sebanyak 7 bahasa daerh ada di Kota Jayapura.

Ke-7 bahasa daerah tersebut yakni Bahasa Kayu batu Kayu pulau, Bahasa Enggros Tobati, Bahasa Nafri, Bahasa Skou, Bahasa sentani, Bahasa Elsing (Kampung Koya Koso) dan Bahasa Nyao di Kampung Mosso.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku menjelaskan meskipun memiliki kekayaan bahasa daerah, jumlah penutur aktif semakin sedikit. Sebagian masyarakat hanya memahami bahasa daerah ketika mendengarnya, tetapi tidak lagi mampu menuturkannya.

Untuk mencegah kepunahan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura terus melestarikan bahasa tersebut. Ini terbukti pada 2024, Pemkot Jayapura menyusun Kamus Bahasa Skouw, kemudian pada 2025 menyusun Kamus Bahasa Tobati-Enggros, dan 2026 dilanjutkan dengan penyusunan Kamus Bahasa Nafri.

“Jika kosakata tidak didokumentasikan, bahasa itu akan pergi bersama penutur aslinya. Sangat disayangkan jika generasi kita selanjutnya tidak mengetahui bahasanya sendiri,” ujarnya, Selasa 27 Oktober 2026.

Grace berharap para penutur asli bahasa Nafri dan tenaga pendidik yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat membantu proses penyusunan kamus sekaligus mempelajari bahasa Nafri untuk diajarkan kepada anak-anak di sekolah.

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah melalui pembelajaran muatan lokal. Pemerintah Kota Jayapura juga telah memiliki payung hukum berupa Peraturan Wali Kota Jayapura Nomor 105 Tahun 2025 tentang pembelajaran bahasa daerah di sekolah sebagai mata pelajaran muatan lokal.

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Yopi Yoram Hanuebi berharap setelah penyusunan kamus  dapat dilanjutkan dengan pembuatan perangkat ajar dan modul pembelajaran bagi siswa mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.

“Kami berharap kamus-kamus yang disusun ini nantinya diikuti dengan penyusunan perangkat ajar, sehingga bahasa dan budaya daerah dapat diajarkan di sekolah dan terus dikenang oleh generasi berikutnya,” kata Yopi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here