Berkah Pagi dari Titang Amerika Negeri Laha 

Pemandangan pusat kuliner di Desa Laha, Ambon.

Desa Laha, BumiPapua– Mama Emy Latuary, perempuan 61 tahun bersyukur di era yang kerap disebut: in this economy, di tengah isu ekonomi yang sedang menantang, penghasilan hariannya sebagai pedagang nasi kelapa di kawasan Titang Amerika atau disebut Jembatan Amerika- Lahasuang, Desa Laha, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku justru lebih dari cukup. 

Banyaknya pembeli setiap pagi, membuat dirinya kewalahan dalam menyuguhkan nasi kelapa khas Desa Laha Ambon.

“Alhamdullilah, penghasilan saat ini lebih dari cukup. Sangat cukup dari hasil menjual nasi kelapa. Alhamdullilah,”  kata Mama Emy dihubungi lewat gawainya oleh BumiPapua.com, Senin 19 Oktober 2026.

Apalagi jelang hari libur,  mulai dari Jumat, Sabtu dan Minggu, nasi kelapa buatannya yang dikenal gurih dan bikin nagih  ini,  sudah pasti ludes terjual sebelum jam 9 pagi.

Nasi kelapa diolah secara sederhana dari beras, santan kelapa murni dan sedikit garam. Sarapan dengan nasi kelapa akan semakin sempurna kelezatannya dengan ditemani ikan bakar fresh dari nelayan dan sambal colo-colo.

Ikan bakar. Foto: Syamsuddin Levi/BumiPapua.com

Harganya pun  bersahabat. Satu porsi nasi kelapa lengkap dengan sambal colo-colo dan ikan bakar segar dibanderol sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 saja. 

“Jangan mencari nasi kelapa saat weekend di Jembatan Amerika, lewat dari jam 8 atau jam 9 pagi, pasti tidak kebagian (habis),” katanya penuh semangat. 

Konsep kuliner di Titang Amerika mengusung prinsip dari nelayan langsung ke meja makan, sehingga hampir tak pernah ada ikan yang dikonsumsi pengunjung terkontaminasi dengan pengawet. Semua fresh  langsung dari tangan nelayan lokal.

Bukan hanya Mama Emy yang roda perekonomiannya  terus berputar kencang. Pedagang lain yang berjualan di lokasi yang sama ikut merasakannya, termasuk para nelayan yang mendaratkan ikan di dermaga itu. 

“Satu hari penghasilan bersih menjual nasi kelapa bisa mengantongi Rp400 ribu hingga Rp500 ribu. Perekonomian kami meningkat. Alhamdullilah,” kata Mama Emy. 

Inovasi Cerdas Pemuda

Ecobrick yang dikerjakan anak-anak di Desa Laha. Foto: Afan

Dulu, kawasan Titang Amerika sepi. Berkat inovasi cerdas pemuda Laha yang berperan menggerakkan potensi kampung, wajah pantai berubah total.

“Sebelum ramai begini, ada satu pemuda yang membuat konten tentang lokasi pendaratan ikan, sambil mengenalkan sarapan pagi dengan kuliner lokal  nasi kelapa, ikan bakar dan sambal colo-colo. Kontennya pun viral dan membuat tempat ini ikut viral sampai detik ini,” Mama Emy mengisahkan.

Bahkan pusat kuiner Jembatan Amerika menjadi destinasi wajib untuk sarapan bagi wisatawan yang baru tiba di Ambon.

“Banyak tamu-tamu yang baru datang dari bandara, entah dari Jakarta atau kota lain, selalu  sarapan di sini. Setelah sarapan, baru melanjutkan  ke penginapannya. Sampai seterkenal ini nama pusat kuliner Lahasuang dan kami tak pernah kehabisan pengunjung untuk sarapan.  Alhamdullilah,” katanya lagi. 

Kolaborasi untuk Negeri

Salah satu sudut pemandangan di lokasi pusat kuliner Desa Laha.

Afan Laturua, Ketua Komunitas Lau Sabua Manise menjelaskan Lahasuang awalnya adalah  tempat bongkar muat ikan tradisional dan  kini bertransformasi menjadi pusat ekonomi baru yang berputar cepat.

Karena makin ramainya lokasi tersebut, para pemuda desa setempat berinisiatif  menata kawasan itu dengan mendirikan tenda-tenda jualan, mengkombinasikan material bambu yang ramah lingkungan, serta memanfaatkan ecobrick untuk mempercantik dinding lapak pedagang.

Ecobrick adalah solusi pengelolaan sampah plastik yang berasal dari botol plastik bekas yang diisi penuh dan dipadatkan dengan sampah plastik bersih serta kering hingga keras, berfungsi sebagai bata ramah lingkungan untuk mengurangi limbah plastik.

Komunitas Lau Sabua Manise menjadi komunitas pelopor yang mengelola limbah plastik menjadi ecobrick yang bermanfaat bagi kedai-kedai pedagang di Desa Laha. 

Komunitas ini pun berkolaborasi dengan Pertamina dalam Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (CSR) dalam pengelolaan ecobrick.

“Kaum pemuda melihat potensi kawasan pendaratan nelayan yang kian ramai dikunjungi untuk  berburu kuliner, bisa menjadi ekonomi wisata baru,” katanya.

Affan bilang, tak hanya pemuda yang membuat acobrick, tapi saat ini ecobrick dibuat juga oleh anak-anak hingga kaum perempuan.

Pembuatan Ecobrick yang dilakukan oleh kaum perempuan di Negeri Laha. Foto: Affan

“Setiap botol ecobrick yang siap pakai dihargai Rp4.000 per botol. Program ini disambut antusias oleh para ibu rumah tangga dan warga karena memberikan penghasilan tambahan langsung sekaligus mencegah penumpukan sampah di sekitarnya,” katanya.

Community Development Officer Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura PT Pertamina Patra Niaga, Annisa Salsabila, mengatakan sejak 2025 telah mendampingi masyarakat Laha dalam pengembangan desa wisata melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan atau CSR.

“Desa Laha berhasil menjadi desa wisata energi berdikari dengan pelibatan masyarakat dan pemuda dengan cara mengolah sampah plastik pantai menjadi ecobrick.”

Masyarakat didorong mengumpulkan sampah yang berada di lingkungan sekitar, termasuk sampah yang terbawa dari laut. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi ecobrick. Ecobrick dikumpulkan ke komunitas pemuda dan dibeli oleh AFT Pattimura PT Pertamina Niaga  dengan harga Rp 4.000 per buah.

“Ecobrick itu selanjutnya digunakan sebagai material pembangunan food stall di kawasan kuliner. Hasilnya, food stall lebih menarik, berwarna warni dengan perpaduan bambu dan material ramah lingkungan lainnya,” kaya Annisa.

Desa Wisata Penghasil Cuan

Kawasan wisata itu pun tak pernah sepi pengunjung. Saat hari kerja saja, pengunjung harian bisa mencapai 200-300 orang.

“Apalagi akhir pekan, pengunjung bisa memadati sampai ribuan. Kami sampai kewalahan mengatur parkir. Sejumlah wisawatan luar negeri pernah mampir di tempat ini, ada yang dari jepang dan Korea serta negara lainnya,” Affan bangga.

Pendapatan dari pengelolaan retribusi parkir dan kebersihan yang dikelola Pemuda Negeri Laha diputar kembali untuk membiayai kegiatan kepemudaan serta pembangunan fasilitas pendukung, seperti perluasan lahan parkir dan penambahan stan kuliner baru.

“Pendapatan perekonomian warga meningkat dan kami lebih sejahtera. Perputaran cuan (uang) di desa ini menjadikan kami lebih bersemangat dan tetap ingin terus mengembangkan desa lebih baik lagi,” katanya.

Guna memperkuat konsep desa wisata mandiri energi, pemuda Laha dan Pertamina sedang mengintegrasikan penggunaan panel surya sebagai sistem penerangan utama di seluruh kawasan Lahasuang. 

Ketekunan para pemuda dan masyarakat setempat dalam pengelolaan sampah berbuah manis. Program Lau Sabua Manise: Pendekatan Circular Economy Dalam Pengembangan Infrastruktur Desa Wisata Negeri Laha Melalui Pemanfaatan Ecobrick meraih Penghargaan Silver kategori Economic Empowerment – AFT Pattimura, Ambon dalam ajang dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026.

Kreativitas pemuda di Desa Laha menjadi kebanggan dan potret nyata dalam menggerakan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Selamat datang di Pantai Laha Titang Amerika Lahasuang. Lokasi yang kini menjelma menjadi pusat kuliner sarapan pagi paling ikonik yang tak pernah sepi pengunjung. *** (Syamsuddin Levi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here