Langkah Berani Ferdinan Mayer Keluar dari Zona Nyaman

Dia menceritakan pengalamannya dengan membawa Kopi Papua bisa menjadikannya mengetahui banyak hal dan membawa nama Papua ke panggung nasional.

Ferdinan Mayer, anak muda Papua yang berprofesi sebagai barista pada salah satu kedai kopi di Kota Jayapura. Foto: Katharina_BumiPapua

JAYAPURA, BumiPapua– Ferdinan Mayer, anak muda Papua tak pernah menyangka, langkahnya untuk keluar dari zona nyaman justru membawa dirinya mendapatkan jalan hidup.

Dia menceritakan pengalamannya dengan membawa Kopi Papua bisa menjadikannya mengetahui banyak hal dan membawa nama Papua ke panggung nasional.

“Saya terus ingin belajar. Dengan belajar dapat mengubah ketidaktahuan menjadi jalan hidup. Dulu saya tidak tahu apa-apa tentang kopi. Jangankan mengerti cita rasa, melangkah masuk ke dalam kafe pun saya belum pernah,” kata Ferdinan yang biasa disapa Edy, mengawali perbicangannya dalam Bincang Sagu yang mengangkat tema Kopi, Pemuda dan Kebinekaan yang digelar di BM Coffee Kotaraja, Kota Jayapura, Minggu 25 Oktober 2026.

Dirinya tak mau menyerah dengan ketidakmampuan. “Saya mau belajar dan terus mencoba. Dari situ saya sadar, anak muda Papua tidak boleh terpaku pada satu pilihan untuk membangun masa depan,” lanjutnya penuh optimisme.

Bagi Ferdinan, menjadi seorang barista bukan sekadar urusan meracik minuman atau menuangkan susu ke dalam cangkir. Di balik meja bar, ada ruang untuk mengasah keterampilan, membangun relasi, serta menjadi “duta” bagi kekayaan tanah kelahirannya sendiri.

Ia memandangnya sebagai panggilan untuk mengenalkan identitas Papua. Salah satu pembuktiannya hadir saat ia memberanikan diri melangkah ke panggung Cangkir Nasional di Makassar beberapa waktu lalu. Di sana, jemarinya meracik biji kopi terbaik dari tanah Papua untuk dinikmati publik luar.

“Saat ikut kegiatan seperti Cangkir Nasional di Makassar, misinya jelas: membawa nama dan citra kopi Papua. Kita ingin dunia tahu bahwa tanah Papua punya kekayaan cita rasa yang luar biasa dan layak bersanding di tingkat internasional,” jelasnya..

Perjalanan itu tentu tidak lepas dari rintangan. Keterbatasan pengetahuan di awal karier dan dinamika waktu menjadi ujian yang harus ia lewati. Namun, Ferdinan percaya bahwa ketidaktahuan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang,melainkan pemicu untuk terus berbenah. Kemauan keras untuk belajarlah yang menjadi bahan bakar utama seorang anak muda.

Melalui pesannya, Ferdinan menaruh harapan besar agar generasi muda Papua tidak ragu menggali potensi lokal di sekeliling mereka. Kopi hanyalah salah satu pintu masuk dari sekian banyak peluang yang menanti untuk dikembangkan.

“Kita tidak harus menjadi ASN, TNI, atau Polri untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri. Menjadi barista pun bisa. Yang paling penting adalah keberanian untuk belajar, bekerja keras, dan jeli melihat peluang,” kata Ferdinan mengakhiri pengalamannya. *** (Cunding Levi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here